MEMAHAMI KEHIDUPAN DARI KEMATIAN

Grave

Memaknai Kehidupan dari Kematian
sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Roma 15:6
Suatu kali saya hadir dalam acara penamatan siswa-siswi SLTP.  Di sana seorang kepala sekolah hendak memberikan pengumuman mengenai kelulusan siswa-siswi kelas 3.  Sejumlah sekolah lain terpaksa menerima kenyataan: beberapa—bahkan beberapa puluh—siswa/i-nya yang tidak lulus.  Sebelum selesai memberikan pengumuman, bapak kepala sekolah yang sedang berbicara tiba-tiba berhenti.  Jantungnya berhenti.  Ia meninggal.
Peristiwa ini sangat mengejutkan semua orang yang hadir.  Saya pun tidak habis pikir dan shock.  Hanya dalam hitungan detik, suasana di sana sangat ramai, para guru histeris.
Mengamati peristiwa yang tidak diinginkan ini membuat setiap manusia semakin menyadari batas hidup manusia yang tidak tentu.  Seperti jam yang diputar Sang Pencipta.  Berhenti pada waktu-Nya.  Demikian manusia dalam keadaan apapun, bagaimanapun, di manapun dalam keadaan siap atau tidak harus berhenti.
Bagi saya secara pribadi, setidaknya ada dua pelajaran hidup di dalamnya.  Pertama, Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari kedukaan selama ada di bumi.  Ke dua, Manusia memiliki waktu terbatas sebelum semuanya kembali dipertanggung jawabkan kepada Pencipta.
Paulus dalam suratnya kepada jemaat Roma mengingatkan setiap orang percaya mengenai arti hidup, memuliakan Tuhan.  Hidup manusia dirancang dengan tujuan memuliakan Tuhan.  Di sanalah semua batasan kelahiran dan kematian menjadi bermakna hanya jika manusia berusaha menggenapi tujuannya diciptakan oleh Tuhan di dunia ini.
Bagi saya, tiada hal lain yang lebih berarti selain mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya bagi keluarga yang ditinggalkan, mendoakan keluarga agar diberi kekuatan dan penghiburan serta semakin menyadari arti hidup ini.  Memaknai kehidupan dari kematian adalah pelajaran penting bagi setiap manusia.  Hidup memuliakan Tuhan adalah jawaban dari memaknai kehidupan dari kematian.

KUALITAS KERJA

walk-with-jesus

KUALITAS KERJA
Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil,
berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Matius 5:41
Zig Ziglar pernah mengatakan: “Jika kita mengerjakan lebih baik dari pada yang dibayarkan, akhirnya kita akan dibayar lebih dari pada yang kita kerjakan.”  Inilah motto hidup dari orang yang mengerjakan bukan sekedar untuk upah yang diterima tetapi bekerja berdasarkan kualitas produktivitas.
Saya pernah melihat tukang yang bekerja sangat giat ketika diawasi dan cenderung malas bekerja tanpa pengawasan.  Entah karena letih atau malas yang pasti ia berhenti bekerja sambil bercerita dan tertawa terbahak-bahak dan pulang sebelum jam kerjanya selesai.
Kecenderungan orang banyak adalah berbuat sesuatu dengan prinsip mendapatkan sebanyak mungkin dengan kehilangan sesedikit mungkin.  Mulai dari membeli barang hingga etos kerja yang hitung-hitungan.
Berbeda halnya dengan apa yang diajarkan Yesus dalam khotbah di bukit.  Yesus menunjukkanetos kerja hidup Kristen yang berbeda dengan dunia.  Gaya hidup Kristen yang diajarkan Kristus dilandaskan bukan pada perhitungan untung rugi, tetapi tujuan yang bertolak dari kasihdan memancar pada kualitas kerja.
Ketika kita melayani adakah kita hitung-hitungan terhadap pekerjaan Tuhan? “Tuhan jika saya sudah banyak melayani dan memberikan persembahan, apakah yang Engkau berkatkan kepadaku?”  barangsiapa melayani Tuhan dengan hitung-hitungan akan dipermalukan dengan kenyataan betapa Tuhan memberi lebih dari apa yang kita sanggup bayangkan.
Marilah kita bertanya kembali kepada motivasi hati kita—entah itu melayani, bekerja di kantor,di rumah dst.—apakah kita melayani berdasarkan apa yang kita dapat ataukah kita melayani dengan motivasi kasih kepada Tuhan dan sesama?
Kiranya Tuhan menolong kita untuk hidup melayani dengan gaya hidup Kristen.  Bukan sekedar melayani berdasarkan kemampuan, tetapi melayani berdasarkan kualitas kerja terbaik yang didorong oleh panggilan Tuhan.  Kiranya Tuhan menolong kitaberkarya bagi Dia, oleh Dia dan di dalam Dia.  Amin.

HIDUP INI SEPERTI SEKOLAH

life-learning-education
HIDUP INI SEPERTI SEKOLAH

“… dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.  Efesus 5:10








Pernahkah Anda tiba-tiba tidak disukai oleh orang lain?  Anda bertanya-tanya dan bingung karena orang itu yang tadinya ramah dan baik kemudian menjadi cuek dan menghindar.  Anda dimusuhi.  Saya pernah dan rasanya tidak enak.
Jikalau Anda adalah orang kolerik, maka kemungkinan besar tidak akan merasakan hal ini sampai yang bersangkutan melakukan tindakan kasar dan mengganggu sistem dan kinerja pekerjaan Anda.  Jikalau Anda adalah sanguin, maka Anda akan langsung bertanya dan terus berbicara dan lupa apa yang terjadi.  Jikalau anda adalah phlegmatik, maka kemungkinan Anda akan bertanya dan menghadapi dengan ringan.  Jikalau Anda melankolis, kemungkinan Anda akan memikirkan dan terus memikirkan hingga stres.
Saya termasuk orang melankolis dan ada tendensi untuk terus memikirkannya.  Kemudian saya menyadari dan berpikir: “Kalau ini diteruskan akan tidak baik hasilnya.  Apa yang Tuhan mau bagi saya?”  Setiap peristiwa di dalam kehidupan yang terjadi setiap harinya, entah itu peristiwa menyenangkan, buruk, berkat dan kerugian, semuanya diijinkan Tuhan terjadi dengan maksud agar kita bertumbuh dan berjalan bersama dengan Kristus.
Paulus menasihatkan kepada jemaat di Efesus agar menunjukkan kualitas hidup orang Kristen yang seharusnya: hidup sebagai anak-anak Tuhan yang taat.  Terjemahan living Bible  menggunakan istilah mengikuti teladan Tuhan.  Setiap orang percaya perlu introspeksi diri.  Jikalau ada dosa, ia harus bertobat dengan meninggalkan dosa itu.  Belajar membiasakan hidup kembali sebagai anak-anak Terang.
Dari renungan ini, Firman Tuhan mengingatkan setiap orang percaya untuk terus mengevaluasi hidup setiap hari.  Setiap efek dari berelasi dengan orang lain seharusnya menghadirkan 3K: Kebaikan, Keadilan dan Kebenaran.
Saya percaya ada maksud Tuhan dibalik sikap orang yang tidak baik.  Pertama, membuat kita belajar mengevaluasi diri.  Kedua,  membuat kita lebih berjaga dan memperhatikan waktu hidup yang dipakai. 
Di dalam dunia pendidian, orang yang ingin lulus harus memperhatikan aturan main dan materi yang disajikan.  Setiap siswa/i harus menggunakan waktu untuk belajar dan mengevaluasi apa yang telah dipelajari.
Hidup ini dapat diilustrasikan dengan sekolah.  Diri sendiri adalah siswa, orang-orang di sekelilingnya adalah teman sekolah.  Materi pelajarannya adalah masalah dan tantangan hidup.  Jikalau orang itu berhasil menyelesaikan dan menghadapi masalah seturut dengan petunjuk Guru, ia naik kelas.  Oh ya, Sang Gurunya adalah Tuhan.  Sang Guru memberikan petunjuk, materi dan ujian.  Murid menerima pelajaran, mengevaluasi dan mengikuti ujian.
Biarlah melalui segala permasalahan, baik kecil maupun besar membuat kita boleh maju selangkah lebih baik, selangkah serupa Kristus.  Marilah kita melihat setiap pergumulan dari cara Tuhan bekerja.  Apakah yang harus dievaluasi dalam hidup saya?  Apakah tindakan saya meresponi peristiwa adalah tindakan yang memperkenan Tuhan?  Atau jangan-jangan tindakan kita egois dan bersifat kedagingan.  Mari kita masuk kelas.

DENGAR SUARA TUHAN?

how-to-listen-to-god

Dengar Suara Tuhan?!
Di antaramu janganlah didapati seorangpun … menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.  Ulangan 18:10-11
Pernah saya mendengar seorang ibu yang sedang frustasi berat karena suaminya mempunyai selingkuhan dengan wanita lain.  Dalam keadaan stres ini ia bertemu dengan orang Kristen yang memerintahkan untuk melakukan beberapa hal yang katanya adalah perintah langsung dari Tuhan.  Benarkah ini?  Apakah orang Kristen itu memang punya karunia dengar suara Tuhan?  Bagaimana pula dengan sejumlah “dukun” Kristen yang mengaku   perkataannya adalah didengar langsung dari Tuhan?
Praktik perdukunan dan peramalan sangat dilarang Tuhan.  Di Perjanjian lama memang banyak orang yang mendengar suara Tuhan dan itu benar.  Kendati demikian, jika tidak waspada bisa jadi tidak sungguh-sungguh dengar suara Tuhan tetapi justru suaranya sendiri dalam hati, dijadikan suara Tuhan.
Jaman Yerobeam tidak jauh beda dengan keadaan sekarang.  Banyak pembesar yang hidup di luar kebenaran dan sejumlah nabi yang mengaku mendengar suara Tuhan.  Seorang abdi dari Yehudah mendengar suara Tuhan dan pergi bernubuat tentang masa depan Mesias (I Raj.13:2).  Raja Yerobeam yang mulanya tidak percaya, menjadi takut dengan abdi itu.  Yerobeam lumpuh ketika memarahi abdi dari Yehudah.
Ketika abdi Allah itu pulang, seorang dari Betel mengaku mendengar suara Tuhan dan meminta nabi dari Yehuda itu makan dirumahnya.   Sebelumnya Tuhan berbicara agar nabi dari Yehuda itu tidak makan apapun di Betel. Permintaan bapak tua dari Betel tidak berani ditolak apalagi setelah dengar: “ini dari Tuhan lho!!”  Esoknya, sewaktu nabi dari Yehudah pulang, ia diterkam mati oleh seekor singa karena melanggar perintah Tuhan.
Apapun dan bagaimanapun keadaannya, suara Tuhan tidak pernah bertentangan dengan Firman-Nya sendiri.  Jadi, apa yang tertulis di Alkitab menjadi tolak ukur untuk mengetahui seseorang mendengar suara Tuhan atau suara hatinya sendiri.  Jangan-jangan yang didengar suara setan.
Alkitab adalah Firman Tuhan dan itu tidak boleh ditambah atau dikurangi lagi.   Yesus Kristus adalah perantara kita sehingga dapat langsung datang kepada Bapa (Ibr.4:14-16).  Dengan demikian, kita sebagai orang percaya tidak boleh mencari orang tertentu (‘dukun’ Kristen) untuk mengetahui kehendak Tuhan.
Jika ada orang mengklaim dengar suara Tuhan seperti:“semalam saya mendengar suara Tuhan, kamu harus berpacaran dengan si Q.” Atau “Saya tahu kamu sakit kanker dan suamimu hendak meninggalkanmu.  Tuhan berkata agar kamu tinggal di kota anu beberapa hari.”   Hati-hati!  Jangan sampai Anda justru lebih mencari “dukun” Kristen dari pada Tuhan Yesus.  Meski ‘peramal’ itu tahu banyak tentang Anda, jangan lugu.  Kehendak Tuhan adalah Anda mengetahui kebenaran (Alkitab) dan kebenaran itu akan memerdekakan Anda (Yoh.8:32).