SALAH NASIHAT JADI RUGI DECH

SALAH NASIHAT JADI RUGI DECH!
Berkatalah pemuka-pemuka bani Amon itu kepada Hanun: “Apakah menurut anggapanmu Daud hendak menghormati ayahmu, karena ia telah mengutus kepadamu orang-orang yang menyampaikan pesan turut berdukacita? Bukankah dengan maksud untuk menyelidik, untuk mengintai dan menghancurkan negeri ini maka pegawai-pegawainya datang kepadamu?”  I Tawarikh 19:3
Seorang pemborong rumah pernah bercerita kepada saya mengenai kegagalan hidupnya ketika ia salah mendengarkan nasihat.  Ia memulai modal usaha sekitar Rp.1.750; untuk membangun rumah (waktu itu sekitar tahun 1970 an).  Usahanya terus berkembang hingga ia mempunyai lebih dari 35 rumah hasil dari kerja keras membangun dan memborong rumah.
Pamannya memberi nasihat agar ia lebih baik menjual semua rumah dan disimpan dalam bentuk uang tunai.  Ia melakukannya.  Sekian waktu kemudian, Indonesia terkena sneering, yakni: pemotongan nilai rupiah menjadi setengahnya saja.  Jika uang seseorang adalah Rp.1 juta, maka hanya dihargai Rp.500.000;  Dirinya frustasi dan jadi kurus, banyak beban pikiran yang ditangungnya hingga sekian lama sebelum bangkit kembalai menjalani hidup.
Salah mendengarkan nasihat dapat menjadi bencana yang sangat merugikan seseorang.  Mendengarkan nasihat bukan hanya perkara enak dan tidak enak dilakukan, tetapi menyangkut penghitungan sebanding tidaknya kerugian yang ditimbulkan di masa depan.  Nasihat yang baik bukan saja perlu kebijakan yang takut akan Tuhan tetapi juga hikmat dari Tuhan.
Hanun baru saja menjadi raja Amon menggantikan ayahnya Nahas.   Niat baik Daud dengan mengutus sejumlah orang untuk memberi bela sungkawa atas meninggalnya ayahnda dari Hanun sekaligus menjalin hubungan baik diantara kedua negara.
Sayangnya, penasihat yang dimiliki oleh Hanun adalah jenis orang berprasangka buruk dan berpikiran pendek.  Mereka menyarankan agar utusan raja Daud dipermalukan dengan asumsi negatif bahwa utusan itu sedang mengintai dan mempersiapkan peperangan melawan negara Amon.
Tentu saja membuat malu delegasi Daud, apalagi hingga merendahkan martabatnya denga mencukur janggut dan memotong semua pakaian hingga pangkal paha, tak pelak ini membuat murka raja Daud.
Raja Hanun harus menyewa puluhan ribu tentara di berbagai negara tetangga, mengeluarkan berton-ton perak dan segala macam pasukan tentara negaranya agar siap menghadapi pasukan Daud.   Dari semua usaha itu, akhirnya Amon ditaklukan juga oleh Daud.
Jikalau menganalisa cerita di atas, bukankah suatu kebodohan tindakan Hanun?  Mengapa begitu angkuh dan berprasangkah buruk terhadap niat baik orang?  Inilah kebodohan Hanun yang mendengarkan penasihat yang salah.
Hati-hati terhadap penasihat atau orang-orang yang member nasihat di sekitar Anda!  Kitapun dapat seperti Hanun ketika menghadapi masalah dan menyelesaikannya dengan bertanya pada orang yang salah.  Mungkin nasihat itu berasal dari gwamia, ramalan, dukun, horoskop, dsb.  Jikalau kita mendasarkan nasihat pada Firman Tuhan dan orang-orang yang takut akan Tuhan, maka kita akan dituntun kebenaran Tuhan bukan kebenaran diri/manusia.  Marilah kita belajar memperhatikan apa yang kita dengar dari penasihat, jangan sampai salah membuat keputusan yang nantinya justru merugikan diri sendiri.

PRINCESS AND THE PAUPER

PRINCESS AND THE PAUPER
Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah
perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu. Mazmur 90:17
Anda pernah menonton film kartun: “Barbie as The Princess and the Pauper” (Barbie sebagai Puteri dan Si Miskin) ?  Film animasi ini menceritakan dua gadis kembar yang memiliki dua kehidupan berbeda.  Sang Puteri hidup dengan segala kemewahan di istana sedangkan Si Miskin hidup di rumah bawah tanah kerja sebagai budak penjahit pakaian.
Sekalipun mereka hidup di dunia yang berbeda, dua gadis kembar ini memiliki satu kesemaan: kebebasan!  Sang Puteri ingin bebas mengatur waktunya di istana, tanpa seribu satu aturan kode etik.  Si Miskin ingin bebas dari hutang, dan kerja paksa di setiap waktunya.
Bukankah kartun animasi ini ada kemiripan dengan kehidupan sehari-hari: setiap orang memiliki kesusahannya sendiri.  Entah ia hidup sebagai orang kaya ataupun sebagai orang miskin, masing-masing memiliki pergumulan dan masalahnya sendiri.
Pemazmur Musa juga memiliki permasalahannya sendiri.  Pujian no.90 adalah ungkapan isi hatinya.  Ia merasakan banyak pergumulan di tahun-tahun kehidupannya.  Ia merasa tidak berdaya, sepi dan ditinggalkan oleh Tuhan.  Terkekang oleh kehidupan yang terbatas, Musa menyadari perlunya kebebasan yang sesungguhnya!
Kebebasan sejati dimulai dengan menyadari keterbatasan dan fananya hidup badani manusia.  Jikalau manusia memandang hidup dengan cara pandang yang sempit, maka ia akan terjebak di dalam penjara kesia-siaan.  Waktu Tuhan bukanlah waktu manusia (II Pet.3:8).
Jalan keluar menuju kebebasan sejati adalah memandang hidup dari perspektif kekekalan.  Dari sinilah Musa belajar menjalani hidupnya dengan bijaksana.  Ia merindukan persekutuan yang hidup dengan Tuhan.  Ia belajar menggunakan setiap harinya untuk memuliakan Tuhan.  Karena sadar hidup ini adalah anugerah, ia ingin setiap pekerjaan tangannya mendapat perkenan Tuhan.
Oh ya, bagaimana dengan akhir cerita The Princess and the Pauper?  Mereka akhirnya mendapatkan kebebasan yang diimpikan.  Sang Putri menikah dengan  orang yang dicintainya, sedangkan Si Miskin selain terbebas hutang dan paksaan kerja juga menikah dengan seorang Pangeran yang dicintainya.  Mereka memperoleh kebebasannya dengan menghidupi apa yang dipercayainya.  Mereka bebas untuk percaya, mereka bebas untuk memulai lagi apa yang rusak menjadi indah.
Keputusan yang bijaksana dalam hidup adalah menjalani waktu  dengan iman percaya dan terus mengerjakan ulang setiap hari: apa yang sudah rusak menjadi indah.  Itulah sebabnya Musa menaikkan doanya: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”  Biarlah itu juga menjadi doa kita.  Amin.

NAFSU ATAU CINTA

Nafsu atau Cinta?
(Baca: II Samuel 13)
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.  Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.  Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. I Korintus 13:4-7
Pernah lihat film lucu dan romantis berjudul Cinderella Story.  Film ini berkisah tentang seorang gadis remaja cantik tetapi miskin yang ditaksir remaja rupawan lagi kaya.  Banyak gadis menyukai cowok ini karena selain baik, cool, juga pewaris harta dan usaha orang tuanya.  Film ini mengetengahkan tentang cinta sejati dan cinta palsu.
Cinta sejati melihat karakter/kepribadian, cinta palsu hanya melihat  kecantikan/ketampanan.  Cinta palsu menuntut kepuasan segera dan tergila-gila (tidak pikir panjang), cinta sejati mau menunggu dan berkembang sejalan proses pengenalan.  Cinta sejati tidak sama dengan nafsu.
Kisah cinta serupa juga terjadi di keluarga kerajaan Daud.  Amnon yang menyebut dirinya sedang dimabuk cinta sedang “sakit” karena Tamar adik Absalom.  Dengan berpura-pura sakit, Amnon minta Daud mengutus adik Tamar yang sangat cantik itu untuk membuatkan kue enak.  Setelah kue itu jadi dan dibawa sendiri oleh Tamar, Amnon langsung memperkosanya.
Ada kemungkinan bahwa sebelumnya Tamar juga tertarik dengan Amnon.  Pertama, Tamar bukannya menolak kawin dengan Amnon tetapi tidak mau berdosa dengan melakukan percabulan.  Tamar bersedia dinikahi Amnon dengan cara yang tepat dan benar.  Ke dua, Tamar merasa sangat sakit hati sewaktu diusir oleh Amnon.  Pasal 13:16 tidak menjelaskan betapa pahit dan pedihnya perasaan Tamar karena diperkosa, tetapi karena dicampakkan.
Amnon sebenarnya bisa mendapatkan cinta Tamar jikalau ia mengendalikan nafsu tubuhnya.  Amnon menyebut keadaannya kepada Yonadab sebagai cinta, tetapi itu sebenarnya nafsu.  Jika Amnon memiliki cinta sejati, maka ia akan sabar dan mengikuti prosedur pernikahan dengan mendatangi orang tua Tamar.  Cinta sejati menjaga kekudusan.  Cinta sejati tidak mementingkan diri sendiri.  Cinta sejati perduli pada perasaan dan keadaan orang yang dicintainya.
Bagaimana keadaan Anda saat ini: sedang jatuh cinta atau menjalin asmara dengan kekasih Anda?  Lihat dan pikir baik-baik perbedaan antara cinta dengan nafsu.  Cinta membawa kebaikan bersama.  Nafsu membawa kepuasan sesaat dan diakhiri dengan kekosongan, penyesalan dan banyak kerugian.
Sudahkah Cinta yang benar menjadi bagian hidup sehari-hari Anda?  Ataukah kebiasaan Anda adalah nafsu seperti: pikiran ngeres, bacaan porno, omongan kotor, lingkungan mesum?  Jika Anda membiasakan hidup dalam cinta, maka godaan nafsu tidak akan menguasai hidupmu.  Hidup dalam cinta adalah (I Korintus 13:4-7): sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong, sopan, tidak egois, tidak dendam, bersukacita karena kebenaran dan yang paling pentig bergaul bersama Sang Kasih itu sendiri: Yesus Kristus (I Yohanes 4:7-12).  Manakah yang Anda pilih mulai hari ini: Membiasakan hidup dalam nafsu atau kasih?  Kiranya Tuhan menolong kita hidup daam cinta-Nya.

MENDUNIAKAN GEREJA

MENDUNIAKAN GEREJA
Bukankah kamu telah menyingkirkan imam-imam TUHAN… sehingga setiap orang yang datang untuk ditahbiskan dengan seekor lembu jantan muda dan tujuh ekor domba jantan, dijadikan imam untuk sesuatu yang bukan Allah.  II Tawarikh 13:9
Ada sejumlah pengunjung gereja yang ditanya: Mengapa mereka mau ke gereja ini dan bukan gereja itu?  Jawabannya adalah: “Saya mau datang ke gereja ini karena musiknya bagus, ada udara pendinginnya, dan suasananya sangat menyenangkan.  Saya diperhatikan dengan sangat baik dan Roh Kudusnya terasa.  Saya tidak lagi datang ke gereja itu karena dicuekkin dan kebaktiannya lesuh.”
Anehnya dalam angket yang dibagikan kepada sejumlah pengunjung gereja ada pertanyaan terakhir setelah itu: Tahukan Anda Apakah ibadah itu?  Jawaban mereka adalah: “Ibadah adalah datang kepada Tuhan di dalam persekutuan, menyembah dan memuliakan Allah.”
Jikalau diperhatikan ke dua jawaban di atas dari orang yang sama, dapatlah dilihat suatu kontradiksi jawaban satu dengan yang lain.  Jika seseorang mengaku ibadah adalah suatu respon kita datang untuk menyembah dan memuliakan Tuhan, maka seharusnya bukan fasilitas dan perhatian orang lain yang mendorong orang itu ke gereja tertentu.
Jaman ini banyak orang mengaku Kristen—entah simpatisan maupun sudah anggota—yang kehidupannya lebih menduniakan gereja dari pada menggerejakan dunia sebagaimana yang Alkitab ajarkan.  Bukannya kesaksian hidup Kristen yang dibawa di dunia lingkungan sekitar, kerja dan rumah tetapi justru membawa kehidupan dunia sekuler yang jahat dengan segala tipu muslihatnya masuk di lingkungan gereja.
Hal ini bukan baru lagi, raja Yerobeam dan Israel meninggalkan kehidupan beribadah kepada Tuhan dan menggantinya dengan keuntungan sebagai prioritas hidup keagamaan.  Mereka menyingkirkan imam-iman ganti dengan imam baru yang membawa keuntungan duniawi.
Tidaklah heran pada akhirnya Tuhan menyerahkan Yerobeam dikalahkan oleh raja Abia.  Sekalipun tentara Israel lebih dari 800 ribu dan tentara Abia hanya 400 ribu.  Hari itu, 500 ribu tentara pilihan Israel dibunuh bersama dengan Yerobeam.  Suatu kengerian yang dituai dari orang yang menjadikan ilah sebagai tuhan mereka.
Kehidupan orang Kristen di gereja dapat seperti ini dan Tuhan dapat menjadikan gedung gereja itu tidak ada kehadiran Tuhan ketika umat Tuhan dan seluruh rohaniwan lebih mementingkan penampilan luar dan hal-hal sensasional dari pada kebenaran Firman Tuhan.
Kiranya Tuhan menolong kita untuk tidak menduniakan gereja melainkan menggerejakan dunia: menjadikan hidup kita sebagai terang bagi orang-orang sekitar hingga dapat merasakan kehadiran Allah di dalam hidup kita. Amin.